Senin, 19 Juli 2010

Senjata Nuklir, Kemajuan Teknologi Yang membawa Petaka Manusia

 

Senjata nuklir adalah senjata yang mendapat tenaga dari reaksi nuklir dan mempunyai daya pemusnah yang dahsyat – sebuah bom nuklir mampu memusnahkan sebuah kota. Senjata nuklir telah digunakan hanya dua kali dalam pertempuran – semasa Perang Dunia II oleh Amerika Serikat terhadap kota-kota Jepang, Hiroshima dan Nagasaki.Pada masa itu daya ledak bom nuklir yg dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki sebesar 20 kilo(ribuan) ton TNT. Sedangkan bom nuklir sekarang ini berdaya ledak lebih dari 70 mega(jutaan) ton TNT
 Bentuk bom nuklir yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki
Negara pemilik senjata nuklir yang dikonfirmasi adalah Amerika Serikat, Rusia, Britania Raya (Inggris), Perancis, Republik Rakyat Cina, India dan Pakistan. Selain itu, negara Israel dipercayai mempunyai senjata nuklir, walaupun tidak diuji dan Israel enggan mengkonfirmasi apakah memiliki senjata nuklir ataupun tidak. Lihat daftar negara dengan senjata nuklir lebih lanjut. Senjata nuklir kini dapat dilancarkan melalui berbagai cara, seperti melalui pesawat pengebom, peluru kendali, peluru kendali balistik, dan Peluru kendali balistik jarak benua.
  
Awan cendawan pengeboman Nagasaki, Jepang, 1945, menjulang sampai 18 km di atas hiposentrum.

Tipe senjata nuklir

 
Dua tipe desain dasar
Senjata nuklir mempunyai dua tipe dasar. Tipe pertama menghasilkan energi ledakannya hanya dari process reaksi fisi. Senjata tipe ini secara umum dinamai bom atom (atomic bomb, A-bombs). Energinya hanya diproduksi dari inti atom.
Pada senjata tipe fisi, masa fissile material (uranium yang diperkaya atau plutonium) dirancang mencapai supercritical mass – jumlah massa yang diperlukan untuk membentuk reaksi rantai- dengan menabrakkan sebutir bahan sub-critical terhadap butiran lainnya (the “gun” method), atau dengan memampatkan bulatan bahan sub-critical menggunakan bahan peledak kimia sehingga mencapai tingkat kepadatan beberapa kali lipat dari nilai semula. (the “implosion” method). Metoda yang kedua dianggap lebih canggih dibandingkan yang pertama. Dan juga penggunaan plutonium sebagai bahan fisil hanya bisa di metoda kedua.
Tantangan utama di semua desain senjata nuklir adalah untuk memastikan sebanyak mungkin bahan bakar fisi terkonsumsi sebelum senjata itu hancur. Jumlah energi yang dilepaskan oleh pembelahan bom dapat berkisar dari sekitar satu ton TNT ke sekitar 500.000 ton (500 kilotons) dari TNT.
Tipe kedua memproduksi sebagian besar energinya melalui reaksi fusi nuklir. Senjata jenis ini disebut senjata termonuklir atau bom hidrogen (disingkat sebagai bom-H), karena tipe ini didasari proses fusi nuklir yang menggabungkan isotop-isotop hidrogen (deuterium dan tritium). Meski, semua senjata tipe ini mendapatkan kebanyakan energinya dari proses fisi (termasuk fisi yang dihasilkan karena induksi neutron dari hasil reaksi fusi.) Tidak seperti tipe senjata fisi, senjata fusi tidak memiliki batasan besarnya energy yang dapat dihasilkan dari sebuah sejata termonuklir.
Dasar kerja desain Tellr-Ulam pada bomb hidrogen: sebuah bomb fisi menghasilkan radiasi yang kemudian mengkompresi dan memanasi butiran bahan fusi pada bagian lain.
Senjata termonuklir bisa berfungsi dengan melalui sebuah bomb fisi yang kemudian memampatkan dan memanasi bahan fisi. Pada desain Teller-Ulam, yang mencakup semua senjata termonuklir multi megaton, metoda ini dicapai dengan meletakkan sebuah bomb fisi dan bahan bakar fusi (deuterium atau lithium deuteride) pada jarak berdekatan didalam sebuah wadah khusus yang dapat memantulkan radiasi. Setelah bomb fisi didetonasi, pancaran sinar gamma and sinar X yang dihasilkan memampatkan bahan fusi, yang kemudian memanasinya ke ke suhu termonuklir. Reaksi fusi yang dihasilkan, selanjutnya memproduksi neutron berkecepatan tinggi yang sangat banyak, yang kemudian menimbulkan pembelahan nuklir pada bahan yang biasanya tidak rawan pembelahan, sebagai contoh depleted uranium. Setiap komponen pada design ini disebut “stage” (atau tahap). Tahap pertama pembelahan atom bom adalah primer dan fusi wadah kapsul adalah tahap sekunder. Di dalam bom-bom hidrogen besar, kira-kira separuh dari ‘yield’ dan sebagian besar nuklir fallout, berasal pada tahapan fisi depleted uranium. Dengan merangkai beberapa tahap-tahap yang berisi bahan bakar fusi yang lebih besar dari tahap sebelumnya, senjata termonuklir bisa mencapai “yield” tak terbatas. Senjata terbesar yang pernah diledakan (the Tsar Bomba dari USSR) merilis energi setara lebih dari 50 juta ton (50 megaton) TNT. Hampir semua senjata termonuklir adalah lebih kecil dibandingkan senjata tersebut, terutama karena kendala praktis seperti perlunya ukuran sekecil ruang dan batasan berat yang bisa di dapatkan pada ujung kepala roket dan misil.
Ada juga tipe senjata nuklir lain, sebagai contoh boosted fission weapon, yang merupakan senjata fisi yang memperbesar ‘yield’-nya dengan sedikit menggunakan reasi fisi. Tetapi fisi ini bukan berasal dari bom fusi. Pada tipe ‘boosted bom’, neutron-neutron yand dihasilkan oleh reaksi fusi terutama berfungsi untuk meningkatkan efisiensi bomb fisi. contoh senjata didesain untuk keperluan khusus; bomb neutron adalah senjata termonuklir yang menghasilkan ledakan relatif kecil, tetapi dengan jumlah radiasi neutron yang banyak. Meledaknya senjata nuklir ini diikuti dengan pancaran radiasi neutron. Senjata jenis ini, secara teori bisa digunakan untuk membawa korban yang tinggi tanpa menghancurkan infrastruktur dan hanya membuat fallout yang kecil. Membubuhi senjata nuklir dengan bahan tertentu (sebagain contoh cobalt atau emas) menghasilkan senjata yang dinamai “salted bomb”. Senjata jenis ini menghasilkan kontaminasi radioactive yang sangat tinggi. Sebagian besar variasi di disain senjata nuklir terletak pada beda “yield” untuk berbagai keperluan, dan untuk mencapai ukuran fisik yang sekecil mungkin.

Fusi nuklir (reaksi termonuklir)
Dalam fisika, fusi nuklir (reaksi termonuklir) adalah sebuah proses saat dua inti atom bergabung, membentuk inti atom yang lebih besar dan melepaskan energi. Fusi nuklir adalah sumber energi yang menyebabkan bintang bersinar, dan Bom Hidrogen meledak. Senjata nuklir adalah senjata yang menggunakan prinsip reaksi fisi nuklir dan fusi nuklir.
Proses ini membutuhkan energi yang besar untuk menggabungkan inti nuklir, bahkan elemen yang paling ringan, hidrogen. Tetapi fusi inti atom yang ringan, yang membentuk inti atom yang lebih berat dan neutron bebas, akan menghasilkan energi yang lebih besar lagi dari energi yang dibutuhkan untuk menggabungkan mereka — sebuah reaksi eksotermik yang dapat menciptakan reaksi yang terjadi sendirinya.
Energi yang dilepas di banyak reaksi nuklir lebih besar dari reaksi kimia, karena energi pengikat yang mengelem kedua inti atom jauh lebih besar dari energi yang menahan elektron ke inti atom. Contoh, energi ionisasi yang diperoleh dari penambahan elektron ke hidrogen adalah 13.6 elektronvolt — lebih kecil satu per sejuta dari 17 MeV yang dilepas oleh reaksi D-T seperti gambar di samping.

Reaksi-reaksi fusi yang dikenal baik

Rantai-rantai reaksi di dalam astrofisika

Proses fusi paling penting di alam adalah yang terjadi di dalam bintang. Meskipun tidak melibatkan reaksi kimia, tetapi seringkali fusi termonuklir di dalam bintang disebut sebagai proses “pembakaran”. Pada pembakaran hidrogen, bahan bakar netto-nya adalah empat proton, dengan hasil netto satu partikel alpha, pelepasan dua positron dan dua neutrino (yang mengubah dua proton menjadi dua netron), dan energi. Ada dua jenis pembakaran hidrogen, yaitu rantai proton-proton dan siklus CNO yang keberlangsungannya bergantung pada massa bintang. Untuk bintang-bintang seukuran Matahari atau lebih kecil, reaksi rantai proton-proton mendominasi, sementara untuk bintang bermassa lebih besar siklus CNO yang mendominasi. Reaksi pembakaran lain seperti pembakaran helium dan karbon juga terjadi bergantung terutama pada tahapan evolusi bintang.

Reaksi-reaksi yang dapat terjadi di Bumi

Beberapa contoh reaksi fusi nuklir yang dapat dilangsungkan di permukaan Bumi adalah sebagai berikut:
(1) D + T   4He (3.5 MeV) +   n (14.1 MeV)  
(2i) D + D   T (1.01 MeV) +   p (3.02 MeV)         50%
(2ii)         3He (0.82 MeV) +   n (2.45 MeV)         50%
(3) D + 3He   4He (3.6 MeV) +   p (14.7 MeV)
(4) T + T   4He   + n + 11.3 MeV
(5) 3He + 3He   4He   + p + 12.9 MeV
(6i) 3He + T   4He   +   p   + n + 12.1 MeV   51%
(6ii)         4He (4.8 MeV) +   D (9.5 MeV)         43%
(6iii)         4He (0.5 MeV) +   n (1.9 MeV) + p (11.9 MeV)   6%
(7) D + 6Li 4He + 22.4 MeV
(8) p + 6Li   4He (1.7 MeV) +   3He (2.3 MeV)
(9) 3He + 6Li 4He   +   p + 16.9 MeV
(10) p + 11B 4He + 8.7 MeV
(11) p + 7Li 4He + 17.3 MeV
p (protium), D (deuterium), dan T (tritium) adalah sebutan untuk isotop-isotop hidrogen.
Sebagai tambahan/ pendukung kepada reaksi fusi utama (yang diinginkan), beberapa reaksi fusi berikut yang mana diikutsertakan/ disebabkan oleh neutron dan deuterium adalah penting. Dimana reaksi ini menghasilkan tritium dan lebih banyak neutron, dalam bomb nuklir dan reaktor nuklir:
(12) n + 6Li   4He   +   T + 4.7 MeV  
(13) n + 7Li   4He   +   T + n – 2.47 MeV  
(14) n + 9Be   8Be   +   2n - 1.67 MeV  
(15) D + 9Be   8Be   +   T + 4.53 MeV  
(energi yang diserap jauh terlalu kecil, neutron-neutron tetap bergerak pada level energi yang tinggi)

Reaksi-reaksi fusi yang lain

Ada banyak reaksi fusi yang lain. Pada umumnya, reaksi fusi antara dua inti atom yang lebih ringan daripada besi dan nikel, melepaskan energi. Sedangkan, reaksi fusi antara dua inti atom yang lebih berat daripada besi dan nikel, menyerap energi.
 Serangan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki
Serangan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki adalah serangan nuklir selama Perang Dunia II terhadap kekaisaran Jepang oleh Amerika Serikat atas perintah Presiden Amerika Serikat Harry S. Truman. Setelah enam bulan pengeboman 67 kota di Jepang lainnya, senjata nuklir “Little Boy” dijatuhkan di kota Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945, diikuti dengan pada tanggal 9 Agustus 1945, dijatuhkan bom nuklir “Fat Man” di atas Nagasaki. Kedua tanggal tersebut adalah satu-satunya serangan nuklir yang pernah terjadi.
Bom atom ini membunuh sebanyak 140.000 orang di Hiroshima dan 80.000 di Nagasaki pada akhir tahun 1945.[1] Sejak itu, ribuan telah tewas akibat luka atau sakit yang berhubungan dengan radiasi yang dikeluarkan oleh bom.[2] Pada kedua kota, mayoritas yang tewas adalah penduduk.
Enam hari setelah dijatuhkannya bom atom di Nagasaki, pada 15 Agustus, Jepang mengumumkan bahwa Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, menandatangani instrumen menyerah pada tanggal 2 September, yang secara resmi mengakhiri Perang Pasifik dan Perang Dunia II. (Jerman sudah menandatangani menyerah pada tanggal 7 Mei 1945, mengakhiri teater Eropa.) Pengeboman ini membuat Jepang sesudah perang mengadopsi Three Non-Nuclear Principles, melarang negara itu memiliki senjata nuklir
Perang Dingin Nuklir
Dunia bakal terancam nklir lagi ketika PM Rusia Vladimir Putin bertemu dengan Presiden China Jiang Zemin di Beijing tahun lalu, yang keduanya mengecam sikap Presiden George W Bush yang berniat mengembangkan senjata penangkis misil strategis untuk melindungi AS dan Eropa Barat dari serangan lawan. Putin mengancam, jika AS tetap melanjutkan niatnya, berarti perang dingin dimulai lagi. Apa artinya? Lonceng perlombaan senjata antara blok Timur dan Barat kembali berdentang. Itu artinya: 12.070 peluru kendali (rudal) nuklir AS, 28.240 Rusia, 400 Inggris, 510 Prancis, 425 China disiap-siagakan kembali.
Di sisi lain, India dan Pakistan yang keduanya punya senjata nuklir, sulit sekali didamaikan. Keduanya rela — pinjam istilah mantan Presiden Pakistan, almarhum Ziaul Haq — makan rumput asal memiliki senjata nuklir. India mengetes ledakan bom atom “perdamaian”nya Mei 1974. Sedang Pakistan tahun 1998. India punya 250 buah rudal bermoncong senjata nuklir. Pakistan baru 150 buah. Tapi jumlah moncong nuklir kedua negara itu sudah cukup untuk meluluh-lantakkan mereka berdua.
Kini, kedua negara bertetangga dan satu etnis itu, seperti minyak dan air. Sewaktu-waktu, bukan tidak mungkin, bola api raksasa berbentuk jamur itu muncul di sana. Bila itu terjadi, niscaya ratusan bahkan jutaan manusia akan tewas seketika. Lebih dari jumlah korban di Hiroshima dan Nagasaki. Belum lagi jika Isreal yang punya 100 rudal nuklir ikut menghancurkan Timur Tengah atas nama menjaga perdamaian. Jika perang nuklir itu terjadi, tamatlah riwayat bumi.
Melihat banyaknya simpanan “senjata perdamaian” itu, nasib bumi memang sangat mencemaskan. Tapi ironisnya sampai hari ini, pakta Non Proliferation Treaty (NPT) Tanpa Batas yang pernah dibahas di New York, 17 April-12 Mei 1995, tetap buntu. Gagasan AS tentang NPT Tanpa Batas untuk menutup akses seluruh negara di dunia terhadap kepemilikan dan pengembangan senjata nuklir — kecuali yang sudah punya (AS, Inggris, Prancis, Rusia, dan China) — mendapat perlawanan hebat, terutama dari Pakistan dan India. Kini, nasib NPT itu pun merana justru karena ketidak-konsistenan negara-negara yang sudah punya senjata nuklr sendiri. Yang tersisa: memanasnya hubungan India-Pakistan yang keduanya punya senjata nuklir.
Kedua negara bertetangga ini sudah tiga kali berperang. Sedang kontak senjata di perbatasan antara kedua negara — terutama di wilayah perbatasan Kashmir yang diklaim India maupun Pakistan — sudah seringkali terjadi. Hasilnya: Asia Selatan adalah wilayah yang paling mungkin menjadi “ajang” perang nuklir di abad 21. Sampai-sampai Menteri Pertahanan AS, Donald Rumsfeld dalam sebuah konferensi pers menyatakan bahwa Pakistan dan India kini harus belajar hidup dalam lingkungan ancaman senjata nuklir. Tapi, kata Rumsfeld, meski hidup dalam suasana tegang, jangan sekali-kali memakai senjata nuklir. Mungkinkah keduanya bisa bertahan hidup dalam suasana terancam jika “syahwat” kekuasaannya begitu tinggi? Itulah yang jadi kekhawatiran dunia

Korea Siapkan Bom Nuklir Masal
Korea Utara (Korut) bertekad menciptakan lebih banyak bom nuklir dan memulai pengayaan uranium untuk program persenjataan atom baru. Ancaman tersebut muncul untuk menyambut sanksi baru yang dikeluarkan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB). Ancaman Korut untuk memperbanyak persenjataan nuklirnya itu dikeluarkan beberapa saat setelah Sekjen PBB Ban Ki-moon membacakan sanksi baru yang dijatuhkan terhadap Korut terkait uji coba nuklir dan rudal terbaru. Sanksi yang didukung 15 negara anggota DK PBB itu disambut positif beberapa negara.
Korea Selatan (Korsel) dan China, yang terkenal sebagai sahabat dekat Korut, menyambut hangat pemberlakuan sanksi baru tersebut. Beijing malah mengatakan, resolusi tersebut sebagai sesuatu yang bisa diterima dan adil. Meski demikian, Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk PBB Susan Rice mengingatkan bahaya reaksi keras Korut. “Berdasar pengalaman masa lampau dan kebiasaan Korut, tidak mengagetkan jika nanti Korut melakukan reaksi keras atas sanksi ini dalam upaya menunjukkan sikap provokasi lainnya,” kata Susan dari Washington. Peringatan Susan menjadi kenyataan. Hanya selang beberapa saat setelah sanksi dijatuhkan, Pyongyang melakukan langkah provokasi dengan menyatakan bakal melakukan pengembangan program senjata nuklir dalam jumlah massal. Pejabat intelijen AS yakin Korut akan merespons sanksi DK PBB itu dengan melakukan tes bom atom ketiga. Perkiraan ini berdasarkan beberapa sumber yang dikutip jaringan American TV. Kementerian Luar Negeri Korut dalam pernyataannya kepada kantor berita resmi setempat mengatakan bahwa seluruh plutonium kini telah dikembangkan dan siap untuk dibuat senjata.
 

Selain itu, sumber kementerian luar negeri setempat juga menyampaikan, satu dari tiga sumber bahan bakar nuklir dari reaktor Yongbon telah diproses kembali untuk dijadikan persenjataan nuklir. “Yang kedua, kami juga telah memulai proses pengayaan uranium,” sumber tersebut berbicara, sembari menambahkan Korut telah sukses mengembangkan teknologi yang dibutuhkan untuk pengayaan uranium setelah diputuskan membangun sumber bahan baku reaktor sendiri.
Fakta bahwa Korut melakukan pengayaan uranium sekaligus juga menunjukkan mereka telah memberikan keterangan tak semestinya pada 2002. Pada 2002, Korut membantah klaim AS bahwa mereka menjalankan program pengayaan uranium secara rahasia. Rencana produksi plutonium secara tidak langsung melanggar perjanjian pelucutan senjata yang telah disepakati dalam forum enam pihak. Meski begitu, Korut mengaku, mereka kembali melakukan program pengayaan setelah DK PBB mengecam uji coba rudal jarak jauh pada April lalu. “Sepertinya akan menjadi sebuah opsi yang tidak mungkin bagi DPRK (Korut) untuk berpikir menyerah dalam program nuklir,” tegas Korut yang kembali mengetatkan blokade perbatasan dan siap menggelar operasi militer.
Korut kembali meningkatkan pengembangan senjata nuklir karena merasa sanksi yang dijatuhkan seolah untuk menekan Pyongyang secara ekonomi agar mau tunduk dengan ideologi dan sistem pihak lain. Korut juga mengatakan, mereka sangat siap melawan siapapun, terutama AS yang telah mensponsori keluarnya sanksi baru. “Tak peduli betapa berat menghadapi aksi isolasi dan blokade yang dipimpin AS. DPRK bangga dengan kekuatan nuklir dan tak akan mundur,” tegas Pyongyang.
 
Selain seruan isolasi terhadap Korut, beberapa sanksi berat yang dijatuhkan kepadanya juga berupa pemeriksaan ketat setiap kapal kargo yang diduga berisi persenjataan terlarang dan bendabenda terkait pengembangan rudal dan senjata nuklir. Sanksi juga berupa embargo persenjataan dan pembekuan aset ekonomi.
Sementara itu, AS mendesak Korut mengakhiri aksi-aksi “provokatif” dan segera kembali dalam perundingan enam pihak. “Korut harus meredam aksi provokatif dan retorikanya serta kembali dalam proses perundingan enam pihak tanpa syarat apapun,” papar pejabat Departemen Luar Negeri AS. Korut pada 25 Mei silam melakukan tes nuklir kedua.Setelah itu mereka meluncurkan beberapa rudal jarak pendek. Tindakan Korut itu menggairahkan kembali perlombaan senjata di semenanjung Korea. Korsel telah mengirimkan 600 marinir tambahan di perbatasan kedua negara. “Pemerintah bersama komunitas internasional akan menghalangi program pengayaan uranium Korut serta plutoniumnya,” papar Kementerian Luar Negeri Korsel kemarin
 
Sumber : http://korananakindonesia.wordpress.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar